HEPATITIS DAN SIROSIS HATI
Hati merupakan salah satu alat tubuh penting yang berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Sebagian besar hasil pencernaan setelah diabsorbsi kemudian langsung dibawa ke hati untuk disimpan atau diubah menjadi bentuk lain dan diangkut ke bagian tubuh yang membutuhkan (Almatsier, 2006).
Dua jenis penyakit hati yang sering ditemukan adalah Hepatitis dan Sirosis Hati. Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh keracunan toksin tertentu atau karena infeksi virus. Penyakit ini disertai anoreksia, demam, rasa mual dan muntah serta jaundice (kuning). Hepatitis dapat bersifat akut atau kronis. Sirosis hati adalah kerusakan hati yang menetap yang disebabkan oleh hepatitis kronis, alcohol, penyumbatan saluran empedu dan berbagai kelainan metabolisme. Jaringan hati secara merata rusak akibat pengereutan dan pengerasan sehingga fungsi hati terganggu (Almatsier, 2006).
HEPATITIS
Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati ( hepatitis B dan C ).
Banyak kasus hepatitis tidak segera diobati karena gejalanya serupa dengan serangan flu. Gejala hepatitis yang paling umum adalah nafsu makan hilang, kelelahan, demam, pegal sekujur tubuh, mual dan muntah serta nyeri pada perut. Pada kasus yang berat, air seni dapat berwarna gelap, buang air besar dapat berwarna pucat, dan kulit serta mata dapat menguning (disebut ikterus atau jaundice).
SIROSIS HATI
Sirosis adalah perusakan jaringan hati normal yang meninggalkan jaringan parut yang tidak berfungsi di sekeliling jaringan hati yang masih berfungsi. Penyakit yang menyebabkan kerusakan hati akan mengakibatkan sirosis. Di AS, penyebab paling sering adalah penyalahgunaan alkohol. Pada usis 45-65 tahun, sirosis merupakan penyebab kematian ketiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Di beberapa negara Asia dan Afrika, penyebab utama dari sirosis adalah hepatitis kronis.
Beberapa penderita sirosis ringan tidak memiliki gejala dan nampak sehat selama bertahun-tahun. Penderita lainnya mengalami kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan dan merasa sakit. Jika aliran empedu tersumbat selama bertahun-tahun, bisa terjadi sakit kuning (jaundice), gatal-gatal dan timbul nodul kecil di kulit yang berwarna kuning, terutama di sekeliling kelopak mata. Malnutrisi biasa terjadi karena buruknya nafsu makan dan terganggunya penyerapan lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, yang disebabkan oleh berkurangnya produksi garam-garam empedu.
Terkadang terjadi batuk darah atau muntah darah karena adanya perdarahan dari vena varikosa di ujung bawah kerongkongan (varises esofageal). Pelebaran pembuluh darah ini merupakan akibat dari tingginya tekanan darah dalam vena yang berasal dari usus menunju ke hati. Tekanan darah tinggi ini disebut sebagai hipertensi portal, yang bersamaan dengan jeleknya fungsi hati, juga bisa menyebabkan terkumpulnya cairan di dalam perut (asites).
PENYEBAB HEPATITIS DAN SIROSIS HATI
Para ilmuwan mengetahui tujuh virus yang bisa menyebabkan hepatitis. Ini disebut virus hepatitis A, B, C, D, E, F dan G, atau HAV, HBV, dan seterusnya. Lebih dari 90% kasus hepatitis disebabkan HAV, HBV dan HCV. Hepatitis virus dapat bersifat akut atau kronis. Akut berarti penderita akan sakit selama beberapa minggu dan kemudian pulih total. Hepatitis kronis berarti hati penderita hepatitis mungkin sudah terkena radang selama enam bulan atau lebih. Hepatitis kronis menetap di tubuh penderita dan dapat menulari orang lain serta penyakit tersebut dapat menjadi aktif lagi.
Sedangkan penyebab terjadinya sirosis adalah sebagai berikut:
- Penyalahgunaan alkohol
- Penggunaan obat-obatan tertentu
- Pemaparan terhadap bahan kimia tertentu
- Infeksi (termasuk hepatitis B dan hepatitis C)
- Penyakit autoimun (termasuk hepatitis autoimun menahun)
- Penyumbatan saluran empedu
- Sumbatan menetap pada aliran darah dari hati (misalnya sindroma Budd-Chiari)
- Gangguan pada jantung dan pembuluh darah
- Kadar galaktosa tinggi dalam darah
- Kadar tirosin tinggi dalam darah pada saat lahir (tirosinosis kongenitalis)
- Penyakit penimbunan glikogen
- Kencing manis (diabetes)
- Kurang gizi
- Penumpukan tembaga yang berlebihan bawaan (penyakit Wilson)
- Kelebihan zat besi (hemokromatosis).
PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan tepat jika kita mengetahui cara-cara penularan berbagai penyakit hepatitis. Hepatitis A menular melalui makanan dan minuman yang tercemar feses penderita hepatitis A. Kebiasaan jajan makanan dan minuman di sembarang tempat meningkatkan resiko tertular penyakit hepatitis A. Makanan mentah maupun setengah matang berpotensi terkontaminasi virus ini.
Beberapa cara pencegahan terhadap penyakit hati adalah sebagai berikut:
1) Imunisasi
2) Imunitas sementara
3) Menjaga kebersihan
4) Tidak menggunakan barang orang lain
5) Melakukan hubungan seks sehat dan aman
6) Jika terinfeksi hepatitis B jangan mendonorkan darah
7) Bersihkan ceceran darah
DIET YANG DIANJURKAN
Diet yang dianjurkan bagi penderita penyakit hati adalah Diet Penyakit Hati.
Tujuan diberikan diet khusus bagi penderita penyakit hati adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal tanpa memberatkan fungsi hati dengan cara:
1) Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih lanjut dan atau meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa.
2) Mencegah katabolisme protein.
3) Mencegah penurunan berat badan atau meningkatkan berat badan bila kurang.
4) Mencegah atau mengurangi asites, varises esofagus dan hipertensi portal.
5) Mencegah koma hepatik.
Syarat diet bagi penyakti hati adalah:
- Energi tinggi yang diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pasien, yaitu sebesar 40-45 Kal/kg BB.
- Lemak cukup, yaitu sebesar 20-25 % dari total kebutuhan energi dalam bentuk mudah dicerna.
- Protein cenderung tinggi sebesar 1.25-1.5 g/kg BB sesuai dengan kemampuan pasien. Pada Diet Hati I diberikan protein sebesar 0.5 g/kg BB, pada Diet Hati II diberikan protein sebesar 1 g/kg BB dan pada Diet Hati III diberikan protein dengan rasio perbandingan nitrogen 150:1.
- Vitamin dan mineral diberikan sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu, diberikan suplemen vitamin B kompleks, C dan K serta mineral seng dan zat besi bila ada anemia.
- Pemberian natrium dilakukan sesuai dengan keadaan pasien. Pemberian natrium rendah tergantung tingkat edema dan asites. Bila pasien mendapat diuretika maka pemberian garam natrium tidak dikurangi.
- Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada kontraindikasi.
- Bentuk makanan diberikan sesuai keadaan pasien. Bila ada keluhan mual dan muntah maka diberikan makanan lunak atau makanan biasa sesuai dengan kemampuan saluran cerna.
Diet Hati I diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila prekoma sudah dapat diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Makanan pada Diet Hati I rendah energi, protein, kalsium, zat besi dan thiamin karena itu sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja. Untuk menambah kandungan energi, selain makanan per oral juga diberikan makanan parenteral berupa cairan glukosa.
Diet Hati II diberikan sebagai makanan peralihan dari Diet Hati I kepada pasien yang nafsu makannya sudah membaik. Makanan ini cukup energi, zat besi, vitamin A dan C namun kurang kalsium dan thiamin. Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau pada pasien hepatitis akut dan sirosis hati yang nafsu makannya telah membaik dan dapat menerima protein serta tidak menunjukkan gejala sirosis hati aktif.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar