Kamis, 16 Juli 2009

ANOREKSIA NERVOSA

Tubuh yang sehat dan langsing sangat didambakan oleh semua orang, terutama wanita dewasa dan remaja putri. Mereka kadang-kadang menempuh jalan yang salah untuk mendapatkan tubuh yang langsing. Salah satu contoh yang berhubungan dengan hal tersebut adalah anoreksia nervosa yang merupakan gangguan perilaku yang berkaitan dengan penolakan makan. Anoreksia biasanya menyerang kaum muda terutama wanita yang terobsesi memiliki tubuh yang langsing, kelainan ini mulai muncul di masa remaja wanita.

Anoreksia Nervosa adalah suatu gangguan yang melibatkan hilangnya selera makan(penolakan makan) yang ditandai dengan ketakutan yang luar biasa akan kegemukan. Penolakan makan yang dilakukan oleh penderita anoreksia nervosa biasanya dengan cara membuangnya, menyembunyikannya ataupun memuntahkannya dengan sengaja (dengan cara mengorek kerongkongan dengan jarinya setelah makan).

Kasus anoreksia merupakan salah satu dampak buruk menjalankan pola diet yang salah. Ada semacam ketakutan pada mereka untuk memiliki tubuh gemuk. Sehingga meskipun mereka telah memiliki tubuh kurus, mereka selalu merasa dirinya terlalu gemuk dan berusaha menjadi lebih kurus lagi. Alhasil mereka menganggap makanan adalah musuh terbesar dan selalu berusaha menghindari makan. Apakah Anda merasa demikian???

Padahal makanan merupakan unsur penting yang harus dipenuhi untuk mempertahankan hidup. Oleh karena itu, anoreksia bukan hanya manyangkut masalah pola makan dan berat badan tetapi juga menyangkut masalah emosional.

PENYEBAB

Penyebab anoreksia belum diketahui secara pasti, tetapi faktor sosial tampaknya memegang peranan penting. Umumnya penderita ingin menjadi kurus karena merasa kegemukan sehingga dianggap tidak menarik, tidak sehat dan tidak diinginkan. Tidak benar jika penderita anoreksia tidak pernah merasakan lapar, sebenarnya mereka selalu lapar. Namun keinginan serta pikiran emosional mereka kontra dengan rasa lapar, sehingga ketika merasa lapar mereka akan berpikir jika makan berat badannya akan segera naik. Resiko yang paling membahayakan bagi penderita anoreksia adalah kematian akibat kelaparan.

CIRI-CIRI ANOREKSIA NERVOSA

* Ditandai dengan perubahan fisik seperti rambut rontok, terhentinnya menstruasi, detak

jantung melambat, tekanan darah rendah dan tidak mampu menahan rasa dingin

* Memiliki tingkat depresi yang lebih parah

* Rentan terkena osteoporosis karena asupan kalsium yang rendah

* Menyebabkan kerusakan hati dan organ-organ vital lainnya jika berat badannya turun di bawah batas

normal

PENCEGAHAN

Pencegahan yang dapat dilakukan adalah makan secara normal atau dengan diet seimbang, bila menginginkan penurunan berat badan mulailah dengan bimbingan ahli gizi.

DIET YANG DIANJURKAN

Penderita anoreksia yang sudah atau hamper memiliki tubuh yang kurus karena gangguan psikis sebaiknya menerapkan Diet Energi Tinggi Protein Tinggi (ETPT). Diet ini mengandung energi dan protein di atas kebutuhan normal. Diet ini diberikan dalam bentuk makanan biasa ditambah bahan makanan sumber protein tinggi seperti susu, telur dan daging atau dalam bentuk minuman enteral ETPT.

* Tujuan Diet

- Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan

jaringan tubuh

- Menambah berat badan hingga mencapai berat badan normal

* Syarat Diet

- Energi tinggi yaitu 40-45 kkal/kg BB

- Protein tinggi yaitu 2,0-2,5 g/kg BB

- Lemak cukup yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total

- Vitamin dan mineral cukup

- Makan diberikan dalam bentuk mudah cerna

PENYAKIT HATI

HEPATITIS DAN SIROSIS HATI

Hati merupakan salah satu alat tubuh penting yang berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Sebagian besar hasil pencernaan setelah diabsorbsi kemudian langsung dibawa ke hati untuk disimpan atau diubah menjadi bentuk lain dan diangkut ke bagian tubuh yang membutuhkan (Almatsier, 2006).

Dua jenis penyakit hati yang sering ditemukan adalah Hepatitis dan Sirosis Hati. Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh keracunan toksin tertentu atau karena infeksi virus. Penyakit ini disertai anoreksia, demam, rasa mual dan muntah serta jaundice (kuning). Hepatitis dapat bersifat akut atau kronis. Sirosis hati adalah kerusakan hati yang menetap yang disebabkan oleh hepatitis kronis, alcohol, penyumbatan saluran empedu dan berbagai kelainan metabolisme. Jaringan hati secara merata rusak akibat pengereutan dan pengerasan sehingga fungsi hati terganggu (Almatsier, 2006).

HEPATITIS

Istilah "Hepatitis" dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati (liver). Penyebabnya dapat berbagai macam, mulai dari virus sampai dengan obat-obatan, termasuk obat tradisional. Virus hepatitis juga ada beberapa jenis, hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit hepatitis akibat virus bisa akut ( hepatitis A ) dapat pula hepatitis kronik ( hepatitis B,C ) dan adapula yang kemudian menjadi kanker hati ( hepatitis B dan C ).

Banyak kasus hepatitis tidak segera diobati karena gejalanya serupa dengan serangan flu. Gejala hepatitis yang paling umum adalah nafsu makan hilang, kelelahan, demam, pegal sekujur tubuh, mual dan muntah serta nyeri pada perut. Pada kasus yang berat, air seni dapat berwarna gelap, buang air besar dapat berwarna pucat, dan kulit serta mata dapat menguning (disebut ikterus atau jaundice).

SIROSIS HATI

Sirosis adalah perusakan jaringan hati normal yang meninggalkan jaringan parut yang tidak berfungsi di sekeliling jaringan hati yang masih berfungsi. Penyakit yang menyebabkan kerusakan hati akan mengakibatkan sirosis. Di AS, penyebab paling sering adalah penyalahgunaan alkohol. Pada usis 45-65 tahun, sirosis merupakan penyebab kematian ketiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Di beberapa negara Asia dan Afrika, penyebab utama dari sirosis adalah hepatitis kronis.

Beberapa penderita sirosis ringan tidak memiliki gejala dan nampak sehat selama bertahun-tahun. Penderita lainnya mengalami kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan dan merasa sakit. Jika aliran empedu tersumbat selama bertahun-tahun, bisa terjadi sakit kuning (jaundice), gatal-gatal dan timbul nodul kecil di kulit yang berwarna kuning, terutama di sekeliling kelopak mata. Malnutrisi biasa terjadi karena buruknya nafsu makan dan terganggunya penyerapan lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, yang disebabkan oleh berkurangnya produksi garam-garam empedu.

Terkadang terjadi batuk darah atau muntah darah karena adanya perdarahan dari vena varikosa di ujung bawah kerongkongan (varises esofageal). Pelebaran pembuluh darah ini merupakan akibat dari tingginya tekanan darah dalam vena yang berasal dari usus menunju ke hati. Tekanan darah tinggi ini disebut sebagai hipertensi portal, yang bersamaan dengan jeleknya fungsi hati, juga bisa menyebabkan terkumpulnya cairan di dalam perut (asites).

PENYEBAB HEPATITIS DAN SIROSIS HATI

Para ilmuwan mengetahui tujuh virus yang bisa menyebabkan hepatitis. Ini disebut virus hepatitis A, B, C, D, E, F dan G, atau HAV, HBV, dan seterusnya. Lebih dari 90% kasus hepatitis disebabkan HAV, HBV dan HCV. Hepatitis virus dapat bersifat akut atau kronis. Akut berarti penderita akan sakit selama beberapa minggu dan kemudian pulih total. Hepatitis kronis berarti hati penderita hepatitis mungkin sudah terkena radang selama enam bulan atau lebih. Hepatitis kronis menetap di tubuh penderita dan dapat menulari orang lain serta penyakit tersebut dapat menjadi aktif lagi.

Sedangkan penyebab terjadinya sirosis adalah sebagai berikut:

  1. Penyalahgunaan alkohol
  2. Penggunaan obat-obatan tertentu
  3. Pemaparan terhadap bahan kimia tertentu
  4. Infeksi (termasuk hepatitis B dan hepatitis C)
  5. Penyakit autoimun (termasuk hepatitis autoimun menahun)
  6. Penyumbatan saluran empedu
  7. Sumbatan menetap pada aliran darah dari hati (misalnya sindroma Budd-Chiari)
  8. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah
  9. Kadar galaktosa tinggi dalam darah
  10. Kadar tirosin tinggi dalam darah pada saat lahir (tirosinosis kongenitalis)
  11. Penyakit penimbunan glikogen
  12. Kencing manis (diabetes)
  13. Kurang gizi
  14. Penumpukan tembaga yang berlebihan bawaan (penyakit Wilson)
  15. Kelebihan zat besi (hemokromatosis).

PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan tepat jika kita mengetahui cara-cara penularan berbagai penyakit hepatitis. Hepatitis A menular melalui makanan dan minuman yang tercemar feses penderita hepatitis A. Kebiasaan jajan makanan dan minuman di sembarang tempat meningkatkan resiko tertular penyakit hepatitis A. Makanan mentah maupun setengah matang berpotensi terkontaminasi virus ini.

Beberapa cara pencegahan terhadap penyakit hati adalah sebagai berikut:

1) Imunisasi

2) Imunitas sementara

3) Menjaga kebersihan

4) Tidak menggunakan barang orang lain

5) Melakukan hubungan seks sehat dan aman

6) Jika terinfeksi hepatitis B jangan mendonorkan darah

7) Bersihkan ceceran darah

DIET YANG DIANJURKAN

Diet yang dianjurkan bagi penderita penyakit hati adalah Diet Penyakit Hati.

Tujuan diberikan diet khusus bagi penderita penyakit hati adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal tanpa memberatkan fungsi hati dengan cara:

1) Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih lanjut dan atau meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa.

2) Mencegah katabolisme protein.

3) Mencegah penurunan berat badan atau meningkatkan berat badan bila kurang.

4) Mencegah atau mengurangi asites, varises esofagus dan hipertensi portal.

5) Mencegah koma hepatik.

Syarat diet bagi penyakti hati adalah:

  1. Energi tinggi yang diberikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pasien, yaitu sebesar 40-45 Kal/kg BB.
  2. Lemak cukup, yaitu sebesar 20-25 % dari total kebutuhan energi dalam bentuk mudah dicerna.
  3. Protein cenderung tinggi sebesar 1.25-1.5 g/kg BB sesuai dengan kemampuan pasien. Pada Diet Hati I diberikan protein sebesar 0.5 g/kg BB, pada Diet Hati II diberikan protein sebesar 1 g/kg BB dan pada Diet Hati III diberikan protein dengan rasio perbandingan nitrogen 150:1.
  4. Vitamin dan mineral diberikan sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu, diberikan suplemen vitamin B kompleks, C dan K serta mineral seng dan zat besi bila ada anemia.
  5. Pemberian natrium dilakukan sesuai dengan keadaan pasien. Pemberian natrium rendah tergantung tingkat edema dan asites. Bila pasien mendapat diuretika maka pemberian garam natrium tidak dikurangi.
  6. Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada kontraindikasi.
  7. Bentuk makanan diberikan sesuai keadaan pasien. Bila ada keluhan mual dan muntah maka diberikan makanan lunak atau makanan biasa sesuai dengan kemampuan saluran cerna.

Diet Hati I diberikan bila pasien dalam keadaan akut atau bila prekoma sudah dapat diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Makanan pada Diet Hati I rendah energi, protein, kalsium, zat besi dan thiamin karena itu sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja. Untuk menambah kandungan energi, selain makanan per oral juga diberikan makanan parenteral berupa cairan glukosa.

Diet Hati II diberikan sebagai makanan peralihan dari Diet Hati I kepada pasien yang nafsu makannya sudah membaik. Makanan ini cukup energi, zat besi, vitamin A dan C namun kurang kalsium dan thiamin. Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau pada pasien hepatitis akut dan sirosis hati yang nafsu makannya telah membaik dan dapat menerima protein serta tidak menunjukkan gejala sirosis hati aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Diet Komplikasi Kehamilan

DIET HIPEREMESIS

Hiperemesis adalah suatu keadaan pada awal kehamilan (sampai trimester II) yang ditandai dengan rasa mual dan muntah yang berlebihan dalam waktu relatif lama. Keadaan ini bila tidak diatasi dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan. Ciri khas diet heperemesis adalah pada penekanan pemberian makanan sumber karbohidrat kompleks, terutama pada pagi hari serta menghindari makanan yang berlemak dan goring-gorengan untuk menekan rasa mual dan minum sebaiknya berjarak.

· Tujuan Diet

* Mengganti persediaan glikogen tubuh dan mengontrol asidosis

* Memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup

· Syarat Diet

* Karbohidrat ringan yaitu 75-80% dari kebutuhan energi total

* Lemak rendah yaitu ≤ 10% dari kebutuhan energi total

* Protein sedang yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total

* Makanan diberikan dalam bentuk kering; pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan

pasien yaitu 7-10 gls per hari

* Makanan mudah dicerna, tiding merangsang saluran cerna dan diberikan sering dalam porsi

kecil

* Bila makan pagi dan siang sulit diterima, dioptimalkan makan malam dan selingan malam

* Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuai dengan keadaan

dan kebutuhan gizi pasien

· Macam Diet dan Indikasi Pemberian

* Diet Hiperemesis I

Diberikan kepada pasien dengan hiperemesis berat. Makanan hanya terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan, tetapi 1-2 jam setelahnya.

* Diet Hiperemesis II

Diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan gizi, kecuali kebutuhan energi.

* Diet Hiperemesis III

Diberikan kepada pasien dengan hiperemesis ringan. Sesuai dengan kesanggupan pasien, minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup energi dan semua zat gizi.